PTK

Penelitian Tindakan Kelas
a) Sejarah singkat Penelitian Tindakan Kelas

Penelitian kelas dimana guru melakukan peranan sebagai peneliti dan kelas sebagai laboratorium. Kurt Lewin, dipandang sebagai “bapak” penelitian tindakan terutama untuk bidang psikologi sosial dan pendidikan. Penelitian yang emansipatoris berhubungan dengan gerakan sosial di bidang pendidikan, Kemmis (1993) melihatnya kegiatan ini sebagai ekspresi dari aspirasi kongkrit dan praktis untuk mendorong perubahan di dunia sosial (pendidikan) menjadi lebih baik, dengan melakukan tindakan perbaikan sosial bersama, kemudian memahami bersama makna tindakan ini, dan berbagi situasi tempat tindakan perbaikan ini dilaksanakan. Secara bertahap penelitian tindakan di bidang pendidikan meningkat dari penelitian yang amatiran (Kemmis, 1993) menjadi lebih tegar pada dekade tahun 1970-an. Di Indonesia, PTK mulai digerakkan dalam upaya- upaya perbaikan mutu pendidikan berlangsung pada dekade tahun 1990-an. (Rochiati, 2005: 24).

b) Penjelasan Penelitian Tindakan Kelas

Ada banyak persoalan yang dihadapi guru pada waktu ia berdiri di depan kelas. Berbagai cara penyelesaian masalah sudah banyak dibahas dalam berbagai telaah penelitian akademik. Misalnya, guru tidak terlalu memahami teori yang dijadikan landasan penelitian tersebut, yang di butuhkan adalah penelitian pendidikan yang membatasi kegunaannya kepada kebutuhan sehari-hari agar dapat dimanfaatkan guru yang ingin memperbaiki kinerjanya.
Untuk memenuhi tuntutan tersebut, guru dapat menggunakan penelitian kelas. Pengertian penelitian tindakan kelas, adalah penelitian yang mengkombinasikan prosedur penelitian dengan tindakan substantif, suatu tindakan yang dilakukan dalam disiplin inkuiri, atau suatu usaha seseorang untuk memahami apa yang sedang terjadi, sambil terlibat dalam sebuah proses perbaikan dan perubahan (Hopkins, 1993). Sedangkan Kemmis (1983) menjelaskan bahwa penelitian tindakan adalah sebuah bentuk inkuiri reflektif yang dilakukan secara kemitraan mengenai situasi sosial tertentu (termasuk pendidikan) untuk meningkatkan rasionalitas dan keadilan dari a) Kegiatan praktek sosial atau pendidikan mereka, b) Pemahaman mereka mengenai kegiatan-kegiatan praktek pendidikan ini, dan c) Situasi yang memungkinkan terlaksananya kegiatan praktek ini. (Rochiati, 2005: 12).
Secara ringkas, PTK adalah bagaimana sekelompok guru dapat mengorganisasikan kondisi praktek pembelajaran mereka, dan belajar dari pengalaman mereka sendiri. Para guru dapat mencobakan suatu gagasan

perbaikan dalam praktek pembelajaran mereka, dan melihat pengaruh nyata dari upaya itu. (Rochiati, 2005: 13).
c) Jenis – jenis Penelitian Tindakan Kelas

Aqib (2006: 88) menyebutkan terdapat empat jenis PTK, yaitu:

1. PTK diagnostik, ialah penelitian yang dirancang dengan menuntun penelitian ke arah suatu tindakan. Dalam hal ini peneliti mendiagnosis dan memasuki situasi yang terdapat dalam latar penelitian.
2. PTK partisipasi, ialah apabila orang yang akan melakukan penelitian harus terlibat langsung didalam proses penelitian sejak awal sampai dengan hasil akhir yang berupa laporan.
3. PTK empiris, ialah apabila peneliti berupaya melaksanakan sesuatu tindakan atau aksi dan melakukan apa yang terjadi selama aksi berlangsung.
4. PTK eksperimental, ialah apabila PTK diselengarakan dengan berupaya menerapkan berbagai teknik atau strategi secara efektif dan efisien dalam suatu kegiatan belajar mengajar.
d) Karakteristik Penelitian Tindakan Kelas

Penelitian Tindakan Kelas memiliki beberapa karakteristik, yaitu: (Dedi,

2010)

1. Masalah berawal dari guru,

2. Tujuannya untuk memperbaiki pembelajaran,

3. Metode utama adalah refleksi diri dengan tetap mengikuti kaidah- kaidah penelitian,

4. Fokus penelitian berupa kaidah pembelajaran,

5. Guru bertindak sebagai pengajar dan peneliti.

e) Model Penelitian Tindakan Kelas

GAGASAN AWAL

RECONNAISSANCE

Rencana Umum
Langkah 1
Langkah 2
Langkah dst

Implementasi
Langkah 1

Evaluasi Perbaikan
Rencana

Langkah 1

Langkah 2

Implementasi
Langkah 2

Evaluasi Dst.

Bagan 2.1

Alur PTK (Model Lewin yang ditafsirkan oleh Kemmis)

Model ini menggambarkan spiral dari beberapa siklus kegiatan. Bagan yang melukiskan kegiatan ini pada siklus dasar kegiatan yang terdiri dari

mengidentifikasi gagasan umum, reconnaissance (melakukan peninjauan), menyusun rencana umum, mengembangkan langkah tindakan yang pertama, mengimplementasikan langkah tindakan yang pertama, mengevaluasi, dan memperbaiki rancangan umum. Dari siklus dasar yang pertama inilah, apabila peneliti menilai adanya kesalahan atau kekurangan dapat memperbaiki atau memodifikasi dengan mengembangkannya dalam spiral ke perencanaan langkah tindakan kedua. Apabila dalam implementasinya kemudian dievaluasi masih terdapat kesalahan atau kekurangan, masih bisa diperbaiki atau dimodifikasi, yakni kemudian secara spiral dilanjutkan dengan perencanaan tindakan ketiga, dan seterusnya.

Penafsiran yang diberikan oleh Kemmis meliputi hal-hal berikut. (Rochiati: 2005, 63)
• Penyusunan gagasan atau rencana umum dapat dilakukan jauh sebelumnya.
• Reconnaissance bukan hanya kegiatan menemukan fakta di lapangan akan tetapi juga mencakup analisis, dan terus berlanjut pada siklus berikutnya, dan bukan hanya pada awal saja.
Implementasi tindakan bukan pekerjaan yang mudah, karenanya jangan langsung dievaluasi melainkan dimonitor dahulu sampai langkah implementasi dilakukan seoptimal mungkin. (Kemmis dalam Elliot: 1991)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s