Model Pembelajaran “THINK PAIR SHARE” (TPS)

PEMBELAJARAN COOPERATIVE “THINK PAIR SHARE” (TPS)
Coperative Learning berdasar imlementasi dari teori konstruktivis, yaitu pembelajaran Cooperative muncul dari konsep bahwa peserta didik lebih mudah menemukan dan memahami konsep yang sulit jika mereka saling berdiskusi dengan temannya. Peserta didik secara rutin bekerja kelompok untuk salin membatu memecahkan masalah-masalah yang kompleks. Jadi,hakekat social dan pengunaan kelompok sejawat menjadi aspek utama dalam pembelajaran “ Cooperative”
Dalam kegiatan pembelajaran muncul berbagai persoalan dalam belajar terjadi persaingan yang individualistik yang sangat kompetitif, maka saat ini dari berbagai kemampuan teknologi pendidikan, mulai mengarahkan agar pendidik dapat berinovasi dalam kegiatan pembelajaran antara lain melalui Model Pembelajaran Cooperative. Belajar cooperative bukan hal yang baru menurut Slavin, 1995, Eggen & Kausiak, 1996. Dalam belajar cooperative, siswa dapat dibentuk dalam kelompok yang terdiri dari 4 atau 5 orang untuk bekerja sama dalam menguasai materi dari guru. Selanjutnya Artzt & Newman (1990) yang dikutip Suherman, menyatakan bahwa belajar cooperative siswa bekerja bersama-sama sebagai suatu tim dalam menyelesaikan tugas-tugas kelompok untuk mencapai tujuan bersama. Tujuan pokok belajar cooperative adalah memaksimalkan belajar siswa untuk peningkatan prestasi akademik dan pemahaman baik secara individu maupun secara kelompok. Karena bekerja secara tim, maka dengan sendirinya ia dapat memperbaiki hubungan di antara para siswa dari berbagai latar belakang etnis dan kemampuan mengembangkan keterampilan-keterampilan proses kelompok dan pemecahan masalah (Lomsell & Deschamps, 1992).
Belajar cooperative dapat berbeda dalam banyak cara, tapi dapat pula dikategorikan dengan sifat sebagai berikut : (1) tujuan kelompok, (2) tanggung jawab individual, (3) kesempatan yang sama, (4) kompetisi kelompok, (5) spesialisasi tugas, dan (6) adaptasi untuk kebutuhan individu (Slavin, 1995).
Zamroni (2000) mengemukakan bahwa manfaat penerapan belajar cooperative adalah dapat mengurangi kesenjangan pendidikan khususnya dalam wujud input pada level individu. Disamping itu, belajar cooperative dapat mengembangkan solidaritas sosial dikalangan siswa. Dengan belajar koperatif, diharapkan kelak akan muncul generasi baru yang memiliki prestasi akademik yang cemerlang dan memiliki solidaritas yang kuat.
Spencer Kagen dalam Muslimin Ibrahim dkk (2000) mengembangkan pendekatan struktur yang menghendaki peserta didik bekerja salin membantu dalam kelompok kecil dan lebih dicirikan oleh penghargaan cooperative, daripada penghargaan individual. Yang dikembangkan perolehan isi akademik ada dua struktur yang digunakan untuk, mengajarkan ketrampilan social dan ketrampilan kelompok antara lain adalah Think-Pair-Share.

Frank Lyman dkk Univesitas Maryland tahun 1985, dalam Muslomin Ibrahim dkk (2000) Think-Pair-Share memiliki prosedur yang ditetapkan secara eksplisit untuk memberi peserta didik lebih banyak berpikir , menjawab, dan saling membantu satu sama lain. Think-Pair-Share merupakan suatu cara yang efektif untuk membuat variasi suasana pola diskusi kelas. Dengan asumsi bahwa Resitasi atau diskusi membutuhkan pengatuaran untuk mengendalikan kelas secara keseluruhan, dan prosedur yang digunakan dapat memberikan siswa lebih banyak waktu berpikir, untuk merspon dan saling membantu. Guru memperkirakan hanya melengkapi penyajian singkat atau siswa mebaca tugas, atau situasi yang menjadi tanda tanya. Sekarang guru menginginkan siswa mempertimbangkan lebih banyak apa yang telah dijelaskan dan dialami. Guru memilih mengunakan Think-Pair-Share untuk membandingkan tanya jawab kelompok keseluruhan.(Arends 1997 dalam Trianto 2007)
Langkah-langkah Think-Pair-Share seperti berikut .
Tahap 1: Thinking (berfikir) Pendidik mengajukan pertanyaan atau isu yang
berhubungan dengan pelajaran, kemudian peserta didik diminta untuk memikirkan pertanyaan atau isu tersebut secara mandiri untuk beberapa saat.
Tahap 2: Pairing, Penndidik meminta peserta didik yang lain untuk mendiskusikan apa yang telah dipikirkannya pada tahap pertama. Interaksi pada tahap ini diharapkan dapat berbagi jawaban jika telah diajukan suatu pertanyaanatau berbagi ide jika suatu persoalan khusus telah diidentifikasi. Biasanya pendidik memberikan waktu 4-5 menit untuk berpasangan.
Tahap 3: Sharing, tahap akhir, guru meminta kepada pasangan untuk berbagi dengan seluruh kelas tentang apa yang mereka bicarakan. Ini efektif dilakukan dengan cara bergiliran pasanganga demi pasangan dan dilanjutkan sekitar sampai seperempat pasanga telah mendapat kesempatan untuk melaporkan. Arends (1997), disadur oleh Tjokrodihardjo (2003)
Berdasar kajian teoritis Model Pembelajaran “THINK PAIR SHARE” (TPS) jika
dapat diterapkan dengan baik, maka hasil belajar siswa / peserta didik diharapkan
akan meningkat. Dengan demikian diharapkan pendidk mengikuti langkah
-langkah operasional TPS dengan baik, sambil mempersiapkan berbagai
prasyarat dalam pengoperasian model TPS.

Tinggalkan komentar

Filed under Uncategorized

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s