Cerita Rakyat tentang KERAJAAN TAMPUNGANLAWO ( Sangihe Thn 1100)

Marquee Text Live - http://www.marqueetextlive.com

1100 – Kerajaan Tampunganlawo mulai berdiri di zaman Gumansalangi – Medellu sebagai Raja – 1300 .Kulano. Datuk tersebut dengan isterinya diketemui oleh penghuni daratan pulau Sangihe Besar digunung Sahandarumang sebagai ternyata dalam bahagian yang mengungkap asal usul suku Sangihe Talaud. Mereka diangkat oleh penduduk sebelumnya menjadi Pemimpin mereka, karena dipandang sebagai orang sakti Dea Dewi sebab diketemukan pada waktu terjadinya Guntur dan kilat yang tiada berkeputusan selama tiga hari dan tiga malam. Mereka tinggal sementara digunung tersebut, dan setelah beroleh keturunan, maka mereka turun dari gunung Sahandarumang menuju matahari terbit mengikuti sungai Balau. Mereka tiba disuatu tempat yang mempunyai alur air dipinggir laut, dan mereka tinggal di tempat itu, tempat mana dinamakan oleh mereka SALUHANG – SALURAN karena terdapat alur – saluran air tersebut. Dari tempat itulah mereka mengembangkan kekuasaan mereka serta memperluas Kerajaan Tampunganglawo.
Dikisahkan, bahwa kerajaan Tampunganglawo mempunyai wilayah, selain dalam kepulauan Sangihe dan Talaud, meluas ke utara dan ke selatan. Pahlawan-pahlawan Kerajaan ialah putera Raja sendiri bernama Malintangnusa dan Melikunusa. Putera Melintangnusa membingkah ke utara ke Philipin Selatan dan kemudian beristerikan Sangianghiabe puteri Abubakar Kulano Tugis. Putera Malikunusa mengitar ke selatan ke Bolang Mangondow lalu beristerikan Menongsangiang asal Bolang Mangindow.
Tiada dijelaskan selengkapnya batas sipat Kerajaan Tampunganglawo. Hal demikian tentu berdasar keadaan dimasa itu, bahwa setelah Johan – Pahlawan setempat dikalahkan dalam perang tanding, maka tanah itu dipandang sebagai tanah taalukan. Kemudian mereka mengembara lagi atau kembali dengan tiada meninggalkan tata peraturan sebagai dewasa ini. Dikatakan perang tanding, karena dalam pertempuran, yang berhadapan ialah Lanang-Pahlawan, dimana setelah mereka berhadapan. Tiada lantas tikam menikam atau parang memarang satu pada yang lain, melainkan mempersilahkan lawan menikam atau memarang lebih dahulu, sebagai dibuktikan oleh dendang demikian :
“Suba kante duba kante
Kuhai suba kuhai,
Kante (nama lawan)
I Mole liaghang dulage
Ia gelireng dalepa
Onggoteng dalembeong
Tegoi su horong bara
Su kotou kumengkilla.”
– Artinya –
“Sujud karib sujud karib
Akrab sujud akrab
Karib (nama lawan)
John keringat pertempuran
Berikan saya sirih pinang
Unjukkan serasa
Unjukkan dimata kampilan
Dihujung keleang.”
Sesudah dua pihak layani melayani, sirih pinang, maka pihak berdendang pula demikian :
“Iakau pemili kampona kante
Penahaede kalemona
Pili bala baung u”
Artinya.
“Kau pranglah duluan karib
Pancunglah mula pertama
Paranglah turut poadmu”
Kemudian pihak yang mendapat tawaran itu berdendang memperingati demikian :
“Ia memili kampona kante
Menahaede Kalamona
Piliku pili i sempe
Tehade taku i poahi
Ta ku i sempe su watu
I poahi su hamolo
Buhu e rumaki su awau
Humawung su wateng u.”
Artinya.
“Saya memarang duluan karib
Memancung mula pertama
Parangku diparang dibenyot
Pancunganku di gendeng
Saya benyotkan dibatu
Di gendeng para karang
Baharu mengena badanmu
Menyaruk ditubuhmu.”
Hal itu dilakukan berulang kali sampai ada yang tewas karena jarang lawan menyerah. Yang mengganti kedudukan Datuk Gumansalangi ialah puteranya bernama Malintangnusa dan setelah lanjut usianya beliau pergi ke Mindanau tinggal disana sampai wafat. Kerajaan diserahkan kepada puteranya bernama Bulegalangi dibantu oleh saudara-saudaranya. Kerajaan tersebut akhirnya suntuh disebabkan pertama-tama putera puteri Datuk Melintangnusa berpisah.
Puteri Sittibai dan Ahilliba bersama suami keduanya bernama Balanaung dan Hengkengbanua pindah di Tariang lama. Putera Pahawongkese pindah ke utara juga dan mulai menyusun ketatanegaraannya sendiri dengan bantuan puteranya bernama Pangalorelu. Putera Bulegalangi mendengar saudaranya telah menyusun ketatanegaraannya sendiri, maka ia bersemboyan.
“Moadeng Saluhang taka pelenduang”
– Artinya –
“Moade Salurang tidak dapat diabaikan”
Demikian ia telah menyusun ketatanegaraannya sendiri pula dengan bantuan uteranya bernama Matandatu. Dengan peristiwa ternyata diatas, maka berakhirlah Kerajaan Tampunganglawo, lalu timbul Kerajaan kecil-kecil antaranya Talawide kemudian berpusat di Kendhar, Kolongan sebelum berpindah ke Tahuna dan lain-lain. Uraian selanjutnya akan diketemukan sebentar dalam membicarakan berdirinya Kerajaan-kerajaan kemudian. Meneruskan kisah cucu Datuk Gumansalangi yaitu Paha wongseke dan Bulegalangi sebagai yang telah diuraikan dimuka, maka timbullah dua Kerajaan bernama Sahabe dan Saluhang – Saluran.

Tinggalkan komentar

Filed under Uncategorized

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s