Cerita Rakyat tentang Tanjung Tonggeng Napoto (Kebudayaan SULUT)

Alkisah pada jaman dulu, di pulau Tagulandang yaitu tepatnya di kawasan yang dikenal dengan nama Kampung ssLikei-Bira (dekat Kampung Bira Kiama dan Kisihang), hiduplah sebuah keluarga yang memiliki sepasang anak laki-laki dan perempuan. Mata pencarian utama sang kepala keluarga adalah nelayan, sementara sang ibu menggarap sebidang kebun untuk menambah pendapatan keluarga. Walau sehari-harinya harus bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidup, namun keluarga yang bersahaja ini memiliki kehidupan yang harmonis dan saling menyayangi.

Di kala sang ayah pergi ke laut mencari ikan, sang ibu sering harus pergi ke kebun atau tempat lain untuk mencari tambahan penghasilan. Di saat-saat tersebut, kedua anaknya sering ditinggal untuk menjaga rumah. Sejak kecil mereka terbiasa bekerja sama, saling melindungi dan memperhatikan keadaan masing-masing.

Hidup agak jauh dari keramaian pemukiman penduduk, membuat kedua bersaudara itu lebih banyak melewatkan waktu bersama. Perasaan saling menyayangi dan melindungi antara kedua bersaudara tersebut tumbuh semakin kuat. Lama-kelamaan kasih persaudaraan antara kedua muda-mudi tersebut berubah menjadi perasaan cinta antara makhluk yang berbeda jenis. Sampai kemudian mereka memutuskan untuk secara diam-diam menikah dan hidup bersama sebagai suami isteri.

DSCF2358Pada masa itu hukum adat dipegang teguh oleh masyarakat, dimana hukum adat ini mengatur sebagian besar perilaku masyarakat. Pernikahan antar pasangan yang memiliki hubungan darah atau ikatan keluarga cukup dekat – seperti ditandai dengan nama keluarga (marga) yang sama, merupakan hal yang tabu dan terlarang. Apalagi untuk pernikahan antar saudara kandung (incest marriage), dianggap sebagai suatu pelanggaran berat. Pelanggaran terhadap kaidah tersebut dapat dikenakan hukuman mati, biasanya dilakukan didepan umum dengan cara ditenggelamkan di laut.

Hubungan cinta antara kedua anak keluarga nelayan tersebut akhirnya diketahui umum. Mengetahui ada dua saudara kandung yang saling mencintai dan hidup bersama secara diam-diam, maka pemuka masyarakat dan tua-tua adat mendatangi keluarga itu untuk meminta kejelasan dan memisahkan mereka. Namun karena kedua muda-mudi yang terlanjur dimabuk asmara tersebut telah terlanjur hidup bersama dan bertekad tidak mau berpisah, maka diputuskan bahwa mereka telah melakukan pelanggaran adat serta mempermalukan keluarga dan masyarakatnya. Untuk itu, mereka dijatuhi hukuman mati sesuai adat tradisi yang berlaku.

Pada hari pelaksanaan hukuman yang telah ditetapkan, tua-tua adat diikuti khalayak ramai membawa para terhukum ke tepi pantai. Disana, kedua pasangan tersebut diikat tangannya dan dinaikkan ke atas sebuah perahu besar sejenis pajeko. Setelah perahu sampai di bagian laut yang cukup dalam, eksekusi dilakukan dengan menjatuhkan terhukum ke air sampai tenggelam. Namun ketika sang kakak laki-laki yang mendapat giliran pertama didorong jatuh ke air, tiba-tiba terjadi suatu keanehan. Saat tubuh pemuda tersebut hampir menyentuh air, mendadak dari dalam air muncul bongkahan tanah yang “menelannya”. Daratan yang terbentuk secara tiba-tiba ini lalu semakin membesar dan bergerak ke arah pantai.

Melihat hal ini, sang adik perempuan lalu melompat menyusul kakaknya.  Sama halnya seperti yang terjadi pada sang kakak, bagian dari tanah yang muncul tiba-tiba di permukaan air laut itu terbuka dan menelan dirinya.

Namun kemudian keanehan lainnya terjadi. Daratan yang menelan tubuh kedua pasangan tersebut mendadak terbelah menjadi dua. Bagian pertama yang berisi sang kakak laki-laki terus bergerak mendekati pantai, sedangkan bagian lainnya yang menelan sang adik perempuan sebaliknya bergerak ke arah yang berlawanan – menjauh ke tengah laut.

Syahdan, masyarakat yang mengikuti peristiwa tersebut terus memandangi dengan takjub bagaimana daratan kecil yang membawa tubuh sang adik perempuan bergerak secara perlahan-lahan menjauh ke cakrawala. Laksana sebuah pulau kecil yang sedang berlayar ke laut bebas. Sedangkan bagian lainnya yang menelan sang kakak laki-laki ketika sampai di dekat pantai yang dangkal, bergerak-gerak dengan suara gemuruh seperti seperti sedang dilanda gempa, membuat air laut di sekitarnya bergelombang. Seolah-olah memberontak dan tidak menerima melihat sang kekasih hati menjauh terpisah dari dirinya.

Konon, daratan kecil yang membawa tubuh pasangan wanita terus bergerak melintasi lautan dan berhenti di suatu pantai dekat pulau Tahuna. Sedangkan daratan lainnya yang berisi tubuh pasangan laki-laki tertinggal di sekitar pantai Likei Bira pulau Tagulandang, dan oleh masyarakat setempat dinamakan Tanjung Tonggeng Napoto.

Tinggalkan komentar

Filed under Uncategorized

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s