Sejarah Singkat GPIBT

Myspace Marquee Text - http://www.marqueetextlive.com

Latar belakang masuknya Injil di Buol Tolitoli ada 2 periode yaitu:
Periode yang pertama yaitu para perantau kristen yang masuk mulai dari paleleh pada akhir abad 19 tepatnya pada tahun 1897 dengan bekerja sebagai karyawan pada Mijn Bouw Maatschappij (Perusahan Tambang Emas milik Belanda) dan di Tahun 1920 greja pertama berdiri di desa Tolau dengan guru jemaat pertama Y H Tumiwa. Kalau di paleleh di datangkan sebagai pegawai perusahaan lain halnya dengan di leok dan buol, para perantau Kristen datang dengan sendirinya untuk membuka usaha mencari pekerjaan pada tahun 1919. Pada tahun 1917 di Bokat didirikan Sekolah-sekolah partikulir (Swasta) oleh Y. Walewangko yang pada tahun 1982 di jadikan sekolah pemerintah. Sedangkan di bodi dan lunguto para perantau Kristen masuk sekitar tahun 1930 dan pada akhirnya tahun 1931 berdirilah jemaat di Lungoto dan diresmikan oleh Inl. Leraar D Kaunang. Pada tahun 1920an para perantau Kristen datang di tolitoli. Kegiatan peribadatan mulai di lakukan pada tahun 1928 di asrama tentara Tolitoli yang dipimpin oleh Y H L Tatontos. Kemudian jemaat itu mendapat pinjaman satu ruangan sekolah untuk tempat beribadah di mana Y H L Tatontos menjadi Gurunya. Tahun 1929 jemat sudah bertambah banyak baik berprofesi sebagai pegawai maupun perantau yang ingin membuka usaha baru dan para tentara. Melihat perkembengan anggota jemat yang bertambah maka pada tahun 1930 di adakan musyawarah antara Y H L Tatontos, Frets Ngion, D M Semen , dan Sopamena yang bertempat di rumah Ngion. Dengan hasil musyawarah bahwa gedung greja sudah harus didirikan. Maka di belilah ramuan gedung gereja dari pemerintah seharga F.25 (25 Golden). Dengan majelis gereja pertama adalah : Y H L Tatontos sebagai guru jemaat dan anggota D M Semen dan D Karlos. (Posisi gereja pertama adalah Gereja Imanuel saat ini)

Periode kedua yaitu Masa penginjilan GMIM. Pada 1 Januari 1937 Indische kerk menyerahkan daerah Sulawesi Tengah menjadi daerah pekabaran injil GMIM dan karena itu pada tahun 1939 GMIM mengutus Inl. Leraar A Rondonuwu ke Tolitoli dan Ev. A Siwi ke Leok dan pada Tahun 1940 A Rondonuwu melaksanakan Babtisan masal di dondo sebanyak 300 Jiwa orang. Tahun 1946 Inl. Leraar A Rondonuwu kembali ke manado dan tahun 1948 pimpinan jemat tolitoli di teruskan oleh A Dompas sampai Tahun1953 GMIM mengutus kembali Pdt. M. L. Wangkay sampai tahun 1955.
Pada tahun 1953 GMIM melaksanakan Konfrensi Zending yang membicarakan jemat-jemat di daerah PI GMIM di dewasakan. Turut hadir dalam konfrensi Zending selain BPS GMIM adalah pendeta-pendeta : N Kiriman (Gorontalo), M L wangkay (Tolitoli), W F Makapedua (Palu), C H Lengkey (Kulawi) dan Guru Injil E. Kimbal (Bondojong).
Pada tahun 1955 keputusan Konfrensi Sending disempurnakan dan di keluarkan SK No. 168 tertanggal 15 juni 1955 dan menetapkan jemaat-jemaat yang berdiri sendiri sebanyak 7 jemaat yaitu, jemaat donggala, tolitoli, palu, parigi, kulawi,tinombo,mouton. Surat Keputusan ini terhitung tanggal 1 januari 1955 bearti bahwa jemaat-jemaat di daerah pekabaran injil sudah dinyatakan sebagai jemaat yang dewasa dan sanggup mengurus diri sendiri tetapi masih dalam pengasuhan GMIM. Dan di saat itu Pdt. W. L. Wangkai di pindahkan ke Gorontalo sehingga di tolitoli tidak dilayani oleh pendeta. Pada tanggal 12 april 1956 majelis gereja tolitoli menyurat ke BPS GMIM minta di tempatkan Pendeta di tolitoli. Hasilnya pada tahun 1957 Pdt. Tore di utus ke tolitoli tetapi Pdt Tore hanya melayani 26 hari lamanya dan dia kembali lagi ke GMIM. Pada tahun 1958 majelis gereja tolitoli mengangkat A Dompas sebagai Pendeta. Dengan pengangkatan ini maka Pdt. A Dompas memimpin jemaat sampai tahun 1960. Pada tahun 1960 GMIM mengutus Pdt. J F Tumanduk ke tolitoli. Kedatangan Pdt. Tumanduk yang langsung mengambil alih kepemimpinan jemaat dari Pdt. A dompas mendatangkan keresahan dan perpecahan jemaat. Tahun 1962 majelis gereja mengirim surat ke BPS GMIM untuk mencabut pdt. Tumanduk dari tolitoli. Maka dengan SK BPS GMIM tgl 8 September 1962 memindahkan Pdt. Tumanduk ke Palu. Mengatasi masalah yang di timbulkan Pdt. Tumanduk maka GMIM mengutus Pdt. D. Wajong untuk mengadakan kunjungan pelayanan di tolitoli. Tanggal 12 Januari 1963 Pdt. D wajong kembali ke manado. Untuk mengatasi kekosongan Pendeta di tolitoli maka dalam sidang BPS GMIM 11 februari 1963 maka di putuskan Pdt. J. J. Ch. Wala yang baru lulus dari sekolah teologia tomohon di utus ke tolitoli yang akan bertugas selama 2 atau 3 tahun. Dalam periode Pdt. Wala inilah mulai timbul ide agar Gereja di Buol Tolitoli harus berdiri sendiri terlepas dari GMIM. Dalam sidang BPS GMIM tanggal 11 November 1964 sudah diputuskan bahwa peresmian bakal-bakal gereja akan dilaksanakan pada hari terakhir sidang sinode GMIM yang akan dilangsungkan pada 14 – 18 desember 1964. Pada acara penutupannya tanggal 18 Desember bertempat di gereja Zentrum Manado diremsikanlah ke tiga bakal gereja yakni :
Gereja Protestan Indonesia di Gorontalo, Gereja Protestan Indonesia di Buol Tolitoli, Gereja Protestan Indonesia di Donggala. Peresmian gereja-gereja seharusnya di lakukan oleh Ketua Ba Pe AM GPI (Badan Pekerja AM Gereja Protestan Indonesia), tetapi karena Ketua BPAm GPI berhalangan maka Ds. AZR Wenas sebagai Ketua Sinode GMIM sejaligus sebagai anggota Ba PeAM PGI meresmikan ketiga gereja muda ini menjadi gereja yang berdiri sendiri sejajar dengan gereja-gereja Kristen lainnya di Indonesia. Dan peresmian ini akan dilanjutkan pada sidang sinode pertama di gereja masing-masing. Maka Pdt. Wala di tugaskan untuk menyusun Proto (Badan Persiapan Sinode) di gereja Tolitoli. Pada bulan maret 1965 Pdt. Wala kembali ke tolitoli dan membentuk Badan Persiapan Sinode mengingat pada bulan april tahun itu juga akan diresmikan dalam sidang sinode pertama. Badan persiapan sinode itu terdiri dari :
Ketua : Pdt. J. J. Ch. W. Wala
Wakil : Pdt. A. Dompas
Sekertris : J Sumolang
Bendahara : GI. J. Salendu (GI = Guru Injil)
Anggota :

  • J J Lengkong
  • P. Tatali
  • D. Mananggang
  • J. L. Tocala
  • Ch. H. Semen
  • J. Lumempouw
  • F. Takahipe
  • F. G. Pangau

pada tanggal 18 April 1965 berlangsunglah sidang sinode GPIBT pertama di gereja kota Tolitoli (Gereja Imanuel sekarang) yang di hadiri oleh Pemerintah, perutusan 10 jemaat yang ada di GPIBT dan utusan dari Sinode GMIM. Pdt. H daandel selaku utusan GMIM melakukan hal yang telah dilakukan oleh Ds. AZR Wenas bulan desember 1964 yaitu peresmian GPIBT berdiri sendiri

Ini adalah sejarah Singkat berdirinya GPIBT yang di kutip dari Pdt. A. J. Diamanti, STh dalam tulisannya pada tesis dengan judul ” Mekar di Perantauan”. Tesis ini dapat ditemukan pada Perpustakan Gereja Oegstgeest di Nederland, Perpustakaan Fakultas Teologia UKIT, Perpustakaan Kantor Sinode GMIM dan pada Beliau sendiri di Tolitoli Jln. Brig. Katamso No. 18 Kelurahan Panasakan Kec. Baolan Prop. Sulawesi Tengah

 

Tinggalkan komentar

Filed under Uncategorized

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s